Dari penugasan selama ini merasa belum puas karena merasa kontribusi untuk polisi masih sedikit. Idealnya polisi itu sebagaimana yang diharapkan oleh masyarakat, masyarakat yang patuh hukum, masyarakat yang baik. Karena kita sadari selama ini ini kita sudah berusaha untuk itu tetapi tidak semua masyarakat dapat terpuaskan, oleh karena itu harus diperbaiki. saya kira ini menjadi dorongan untuk berbuat. Polisi berseragam, lebih kepada tugas-tugas prevensi. Polisi harus berbuat, tetapi tidak semua keinginan masyarakat dapat terpenuhi. Karena polisi juga manusia yang pastinya memiliki kekurangan, tapi sekarang masyarakat menganggap polisi sebagai malaikat. karena masyarakat berpikir, polisi datang itu memerlukan sarana. saat menghadapi unjuk rasa, digebukin tetapi tetap bertahan diam saja. Tetapi kalau menghadapi unjuk rasa yang bersifat anarkis, apakah tetap diam saja? sebagai contoh unjuk rasa di Papua, adakah apresiasi untuk polisi waktu itu? saat polisi melakukan sedikit kekeliruan, semua perhatian tertuju pada polisi. inilah yang harus diperbaiki, jadi tidak hanya internal polisi saja yang harus diperbaiki tetapi juga masyarakat.tapi kita sedang berusaha mereformasi diri, berjuang. Saya kira semua pimpinan polisi menginginkan polisi yang sesuai dengan harapan masyarakat. kita menginginkan setidaknya polisi dipercaya masyarakat. Karena jika masyarakat tidak percaya kepada polisi, bagaimana bisa terjalin komunikasi yang baik. saya merasa tidak kecil hati, artinya begini kita sudah komitmen sebagai polisi kita harus memenuhi harapan masyarakat. kita sudah ada progran harian, mingguan, bulanan dan program lainnya. yang jelas bagaimana bisa menjadi polisi yang profesional, modern dan bermoral.
Sikap-sikap seperti itu adalah masalah kultur, dimana masalah kultur ini perubahannya tidak bisa secara revolusioner. Tertarik masuk polisi diajak teman ada 21 orang, hanya saya yang lulus. Setelah masuk baru merasa ternyata menarik menjadi polisi.Ada semacam kecintaan terhadap tugas dan itu menjadi amanah, jadi jika tugas polisi itu dilaksanakan dengan sungguh-sungguh maka akan dinikmati.
Didalam keluarga saya tidak pernah memaksakan kehendak yang penting bagaimana menjalankan hidup. Mengajarkan kearifan, bagaimana hidup, saling menyayangi. Saya yakin hidup itu ada batas, tetapi akan ada kehidupan setelah kehidupan itu berakhir. Saya meyakini ini didasarkan pada agama yang saya anut, jadi pada hakekatnya kehidupan ini harus diisi dengan hal yang positif. Setiap orang membayangkan kebahagiaan, tetapi tidak ada kebahagiaan yang hakiki. Setiap orang punya pandangan, tetapi minimal kita mempunyai visi dalam hidup, misalnya dalam kehidupan rumah tangga, saya ingin membangun rumah tangga seperti apa, keluarga, saya bangun dengan alam demokrasi, jadi keinginan anak tidak saya paksakan biarkan mereka memilih sendiri. Saya lebih banyak discuss, banyak hal rekreasi, ngobrol, makan bersama, diskusi. karena disitu bisa saling mengisi.semua bagian saya merasa enjoy. Saya merasa di semua bagian sama saja, yang penting itu bagian dari tugas yang harus diselesaikan. Saya tidak pernah tugas hari diselesaikan besok, jadi tugas hari ini ya harus selesai hari ini. Kalaupun belum selesai, saya bawa pulang dan saya selesaikan di rumah. nggak pernah merasa jenuh,mungkin jika tidak ada kerjaan malah mencari kerjaan. Rumah tangga itu sharing, jadi tidak pernah memaksakan. istri juga sibuk, bagaimana sulitnya mengatur keuangan. jika dalam diskusi keluarga, sudah diambil kesepakatan, maka kesepakatan itu harus dijalankan.
Sebetulnya ada sebuah renungan, dan renungan itu menyadarkan saya ternyata sudah 24 tahun. kalau nggak diingatkan, kadang-kadang terbuai, justru perjalanan yang 24 tahun itu sangat berbeda dengan perjalanan 10 tahun kedepan. Kondisi, tantangannya berbeda banget, dulu mungkin kita tidak diamati, disoroti oleh banyak orang. 10 tahun ini sangat pendek dan itu akan memberikan puncak dari semuanya. Kalau mereka yang hebat, itu puncak dari prestasi mereka. bagi yang berambisi, itu puncak dari ambisi mereka. Bagi saya puncak obsesi, kalau saya jadi bintang dua saja sudah hebat. saya tahu diri, puncak obsesi saya cuma sampai situ. Mungkin teman-teman yang lain puncak obsesinya ingin menjadi Kapolri. Semua ada puncaknya, setiap kita mendekati puncak, saat itulah terjadi konflik internal diantara semua orang. Inilah yang menyadarkan kita bahwa komitmen awal kita apa sih. padahal adik-adik itu bilang 84 itu begini, orang bilang begini. Tetapi kami yang di 84 sendiri melihat ada kelompoknya X, kelompok Y. Kalau saya sendiri nggak ada, inilah sebenarnya kalau dibiarkan akan semakin meretak, terpecah. Bapak ibu saya Katolik pada akhirnya, bukan kita lahir dari orang Katolik. Bapak dulu Islam, pada akhirnya ia tinggalkan saat beliau bertemu dengan seseorang yang beliau tahu itu adalah Yesus. Jadi bermimpi bertemu seseorang dengan ciri-ciri ini, ini. Terus semua orang diajak oleh orang itu dan mau.Umur bapak saya 60an, mimpi di Magelang 2 minggu kemudian ke Jakarta melihat orang yang mengajaknya ada di foto di rumah kakak saya. Kalau kakak saya menjelaskan kalau orang yang di foto itu Yesus. lalu bapak saya tanya bisa nggak pindah jadi katolik. lalu kakak saya kaget. kalau ibu saya ikut bapak saya. kakak saya nyuruh bapak saya pulang nyuruh kasih surat ke Pastur. Lalu belajar selama 1 tahun, habis itu dipermandikan. Bapak saya itu tingkat ritualnya tinggi, artinya tingkat ketaatan terhadap Tuhan itu tinggi, hanya tidak terbungkus dalam agama. Bukan bapak saya tidak bertuhan, bapak saya sangat menghargai Tuhan. mungkin itu merupakan suatu keajaiban bapak saya dipanggil oleh Yesus. Jadi bapak saya Katolik bukan karena lahir dari keluarga Katolik. Sekarang keluarga saya sebagian besar sudah Katolik. sekarang ada keponakan saya yang sudah masuk seminari. semua keluarga mendukung dan semoga bisa menjadi Pastur.
Sikap-sikap seperti itu adalah masalah kultur, dimana masalah kultur ini perubahannya tidak bisa secara revolusioner. Tertarik masuk polisi diajak teman ada 21 orang, hanya saya yang lulus. Setelah masuk baru merasa ternyata menarik menjadi polisi.Ada semacam kecintaan terhadap tugas dan itu menjadi amanah, jadi jika tugas polisi itu dilaksanakan dengan sungguh-sungguh maka akan dinikmati.
Didalam keluarga saya tidak pernah memaksakan kehendak yang penting bagaimana menjalankan hidup. Mengajarkan kearifan, bagaimana hidup, saling menyayangi. Saya yakin hidup itu ada batas, tetapi akan ada kehidupan setelah kehidupan itu berakhir. Saya meyakini ini didasarkan pada agama yang saya anut, jadi pada hakekatnya kehidupan ini harus diisi dengan hal yang positif. Setiap orang membayangkan kebahagiaan, tetapi tidak ada kebahagiaan yang hakiki. Setiap orang punya pandangan, tetapi minimal kita mempunyai visi dalam hidup, misalnya dalam kehidupan rumah tangga, saya ingin membangun rumah tangga seperti apa, keluarga, saya bangun dengan alam demokrasi, jadi keinginan anak tidak saya paksakan biarkan mereka memilih sendiri. Saya lebih banyak discuss, banyak hal rekreasi, ngobrol, makan bersama, diskusi. karena disitu bisa saling mengisi.semua bagian saya merasa enjoy. Saya merasa di semua bagian sama saja, yang penting itu bagian dari tugas yang harus diselesaikan. Saya tidak pernah tugas hari diselesaikan besok, jadi tugas hari ini ya harus selesai hari ini. Kalaupun belum selesai, saya bawa pulang dan saya selesaikan di rumah. nggak pernah merasa jenuh,mungkin jika tidak ada kerjaan malah mencari kerjaan. Rumah tangga itu sharing, jadi tidak pernah memaksakan. istri juga sibuk, bagaimana sulitnya mengatur keuangan. jika dalam diskusi keluarga, sudah diambil kesepakatan, maka kesepakatan itu harus dijalankan.
Sebetulnya ada sebuah renungan, dan renungan itu menyadarkan saya ternyata sudah 24 tahun. kalau nggak diingatkan, kadang-kadang terbuai, justru perjalanan yang 24 tahun itu sangat berbeda dengan perjalanan 10 tahun kedepan. Kondisi, tantangannya berbeda banget, dulu mungkin kita tidak diamati, disoroti oleh banyak orang. 10 tahun ini sangat pendek dan itu akan memberikan puncak dari semuanya. Kalau mereka yang hebat, itu puncak dari prestasi mereka. bagi yang berambisi, itu puncak dari ambisi mereka. Bagi saya puncak obsesi, kalau saya jadi bintang dua saja sudah hebat. saya tahu diri, puncak obsesi saya cuma sampai situ. Mungkin teman-teman yang lain puncak obsesinya ingin menjadi Kapolri. Semua ada puncaknya, setiap kita mendekati puncak, saat itulah terjadi konflik internal diantara semua orang. Inilah yang menyadarkan kita bahwa komitmen awal kita apa sih. padahal adik-adik itu bilang 84 itu begini, orang bilang begini. Tetapi kami yang di 84 sendiri melihat ada kelompoknya X, kelompok Y. Kalau saya sendiri nggak ada, inilah sebenarnya kalau dibiarkan akan semakin meretak, terpecah. Bapak ibu saya Katolik pada akhirnya, bukan kita lahir dari orang Katolik. Bapak dulu Islam, pada akhirnya ia tinggalkan saat beliau bertemu dengan seseorang yang beliau tahu itu adalah Yesus. Jadi bermimpi bertemu seseorang dengan ciri-ciri ini, ini. Terus semua orang diajak oleh orang itu dan mau.Umur bapak saya 60an, mimpi di Magelang 2 minggu kemudian ke Jakarta melihat orang yang mengajaknya ada di foto di rumah kakak saya. Kalau kakak saya menjelaskan kalau orang yang di foto itu Yesus. lalu bapak saya tanya bisa nggak pindah jadi katolik. lalu kakak saya kaget. kalau ibu saya ikut bapak saya. kakak saya nyuruh bapak saya pulang nyuruh kasih surat ke Pastur. Lalu belajar selama 1 tahun, habis itu dipermandikan. Bapak saya itu tingkat ritualnya tinggi, artinya tingkat ketaatan terhadap Tuhan itu tinggi, hanya tidak terbungkus dalam agama. Bukan bapak saya tidak bertuhan, bapak saya sangat menghargai Tuhan. mungkin itu merupakan suatu keajaiban bapak saya dipanggil oleh Yesus. Jadi bapak saya Katolik bukan karena lahir dari keluarga Katolik. Sekarang keluarga saya sebagian besar sudah Katolik. sekarang ada keponakan saya yang sudah masuk seminari. semua keluarga mendukung dan semoga bisa menjadi Pastur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar